Home

Thursday, 2 May 2013

POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERKAIT INTERVENSI KEMANUSIAAN DI LIBYA


POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERKAIT INTERVENSI KEMANUSIAAN DI LIBYA

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah
Libya merupakan negara timur tengah yang ikut mengalami arab spring yang terjadi di berbagai negara Timur tengah seperti Tunisia, mesir, suriah, Bahrain dan yaman.  Arab spring merupakan gelombang revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi di negara arab sejak 18 desember 2010 di Tunisia dan semakin meluas ke negara-negara timur tengah yang lainya (lynthomas,2011). Terjadinya arab spring ini mengakibatkan jatuhnya rezim-rezim penguasa di negara-negara timur tengah yang mengalaminya. Kejatuhan rezim-rezim penguasa yang sebagian besar telah puluhan tahun berkuasa dimasing-masing negara dilakukan oleh para rakyat negaranya maupun melalui bantuan negara lain seperti yang terjadi di Libya dalam menjatuhkan kekuasaan presiden muammar  khadafi yang telah berkuasa puluhan tahun  melalui intervensi Amerika serikat, Inggris dan prancis dengan atas nama NATO  yang telah dilegistimasi oleh PBB.
            Latar belakang terjadinya gejolak politik di libya bermula dari sebuah demonstrasi besar-besaran  oleh rakyat yang menuntut muamar khadafi untuk turun dari kursi presiden. Muamar khadafi telah menduduki kursi presiden selama 41 tahun. selama menjabat muamar khadafi dipandang sebagai pemimpin bertangan besi dan tidak merepresentasikan kepentingan rakyat libya. Dalam masa kepemimpinannya pula Libya sempat dikucilkan dalam hubungan internasional karena menjadi ‘oposisi’ politik internasional Amerika Serikat sebagai negara hegemoni.
            Pemerintah muamar khadafi menanggapi demonstrasi besar-besaran di libya dengan kekerasan dan pembunuhan. Ratusan orang meninggal dan ratusan  orang mengalami  luka-luka atas kekerasan tentara-tentara muammar khadafi untuk membubarkan demonstrasi besar-besaran tersebut dengan senjata api bahkan dengan jet tempurnya. Bahkan dalam pidatonya,  khadafi bersiap mengerahkan semua senjatanya untuk mempertahankan Tripoli dari para pemberontak (kawilarang,armandhanuk,2011).
         Pergolakan politik di Libya kemudian memuncak dengan terjadinya perang saudara di benghadzi. Perang antara tentara pro khadafi dan tentara dari pemerintah melawan pemberontak telah membuat banyak korban yang bukan hanya dari pasukan tentara kedua kelompok yang bertikai namun pula banyak dari warga sipil yang ikut menjadi korban peperangan kedua kelompok tersebut. Selama pergolakan politik di Libya Sekitar 50.000 orang terbunuh baik dari tentara pro khadafi maupun pemberontak dan juga dari rakyat sipil Libya (purwadi,2011).
            Namun semangat revolusionis rakyat libya dalam menggulingkan pemerintahan muamar khadafi tak terbendung walaupun dengan senjata api tentara khadafi. Muamar khadafi semakin terdesak dari Tripoli dan menindahkan pusat kekuatannya ke kota Benghazi, kota kelahiran muamar khadafi.
Dalam perkembangan konflik libya, rakyat terbagi menjadi dua yaitu rakyat yang loyalis terhadap muamar khadafi dan rakyat yang beroposisi atau kontra dengan muamar khadafi. Dua golongan tentu berbeda kepentingan , rakyat yang loyalis khadafi berkepentingan untuk mempertahankan kekuasaan khadafi sedangkan rakyat yang kontra sebaliknya. Atas dasar dua kepentingan yang berbeda ini terjadi peperangan saudara di Benghazi sebagai pusat kekuatan baru muamar khadafi yang terpojokan dari Tripoli.

Kekuatan persenjataan muamar khadafi di Benghazi lebih canggih dibanding dengan kekuatan persenjataan oposisi dan sistem militer yang kurang. Pesawat tempur dan kendaraan perang lain dikerahkan dalam upaya pertahanan kekuasaan khadafi.  Akibatnya banyak jatuh korban dari warga sipil yang diserang oleh para tentara muamar khadafi terutama dari udara.
            Di sisi lain Pembantaian sipil yang dilakukan oleh para tentara khadafi dengan mengunakan jet tempur yang terjadi di domestik berubah menjadi  isu internasional. Berbagai kecaman dari dunia internasional, hal ini membuat oposisi yang sedang mengalami kemunduran mencari dukungan dunia internasional khususnya PBB. Peperangan di Libya ini menjadi topik utama di media-media internasional dan dunia internasional mengecam tidakan tentara pemerintah yang memerangi warga sipil dengan senjata militer. Prancis,Inggris dan Amerika Serikat sebagai salah satu dewan keamanan PBB turut mengecam tindakan ini dan memutuskan untuk ikut membantu menjatuhkan rezim pemerintah Libya melalui NATO (Norington,2011). PBB sebagai organisasi internasional dengan anggota negara-negara di dunia menerapkan resolusi 1973 DK PBB dengan mengizinkan dewan keamanan PBB melalui NATO untuk melakukan segala cara untuk melindungi warga sipil dari tindakan kekerasan pemerintah Libya salah satu dengan cara kebijakan melakukan zona larangan terbang oleh NATO (traynor,watt,2011).
Pada tanggal 19 maret 2011, presiden perancis, Nicolas sarcozy telah meluncurkan 19 pesawat tempurnya di kawasan Benghazi. Operasi ini bertujuan untuk mencegah serangan pasukan khadafi menuju kota yang telah dikuasai pemberontak. Pada hari itu juga pasukan angkatan udara Inggris dan Amerika serikat telah menembakan rudal jelajah pertama, menjatuhkan bom ke lapangan terbang tentara khadafi dan mencari pasukan darat Libya yang menyerang. Operasi militer tentara Amerika serikat, inggris dan perancis atas nama NATO terus beroperasi menghancurkan tentara khadafi. Dan puncak operasi NATO yaitu ketika terbunuhnya presiden Libya Muammar khadafi di Sirte pada 20 oktober 2011.
Pasca jatuhnya muammar khadafi, rakyat Libya harus tetap berjuang dalam membangun negaranya yang masih belum stabil baik ekonomi, politik dan social. Libya masih rawan akan perebutan kekuasaan walaupun telah terbentuk Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) karena masih dianggap belum menemukan system pemerintahan yang cocok dengan libya. Oleh karena itu diplomat Amerika serikat,  paul Bremen, menawarkan kerjasama dengan rakyat Libya terkait proses transisi kepemimpinan Libya melalui jalan demokrasi yaitu pemilihan umum di Libya, revisi undang-undang dan membuat undang-undang baru.
B.                 Tinjauan Pustaka
Dalam bagian ini, saya akan mengulas skrispi mengenai Libya. skripsi berjudul “faktor-faktor krisis politik Libya tahun 2010-2011”.penulis skripsi ini adalah Z. Muniroh seorang mahasiswi di Universitas Muhammadiyyah Yogyakarta.
            Dalam skripsi muniroh , dia membahas gejolak poitik yang terjadi di Libya yang ia persempit agar lebih fokus yaitu pada tahun 2010-2011 tepatnya ketika arab spring melanda sebagian negara timur tengah termasuk Libya sendiri yang mengalami arab spring yang berakibat turunnya moammar khadafi dari kursi kepresidenan yang telah duduki lebih dari empat dekade. Focus dari Muniroh dalam gejolak politik di Libya tahun 2010-2011 membuat saya memilihnya menjadi tinjauan pustaka karena konflik Libya adalah pembahasan yang akan saya bahasa dalam tulisan ini.
            Dalam tulisannya, Muniroh memfokuskan diri menganalisa factor-faktor internal dalam negeri Libya. menurutnya factor kepemimpinan khadafi dalam membangun Libya sangat mempengaruhi negeri Libya ini. Terbukti dia telah menjadi orang nomor satu di Libya selama empat decade lebih tepatnya 41 tahun setelah mengkudeta raja idris dari kerajaannya oleh khadafi sendiri dan seanjutnya dia mendirikan negara demokrasi yang sesuai dengan dirinya bahkan ia membuat green book sebagai buku yang menjelaskan teori universal ciptaannya yang banyak dipengaruhi oleh gamal abdul Nasser dari mesir.
            Menurutnya ada tiga kelompok yang berperan penting dalam gejolak poitik di Libya yang pertama adalah kelompok pro atau mendukung presiden khadafi.  Kelompok kedua adalah kelompok yang kontra dengan khadafi , dan yang terakhir adalah kelompok dari dunia internasional.
            Dari pemaparan singkat mengenai apa yang ditulis oleh Muniroh dalam skripsinya. Ada hal mendasar yang membuat tulisan ini berbeda dengan tulisan skripsi muniroh, dalam tulisan ini saya akan lebih memfokuskan diri tekait kelompok ketiga yang mempengaruhi gejolak politik Libya yaitu dunia internasional dan untuk mempermudah dalam pembasan saya sengaja mempersempitnya agar lebih focus ke pengaruh Amerika Serikat di Libya. dalam isu politiknya saya lebih memfokuskan diri pada intervensi kemanusiaan NATO di Libya atas campur tanggan Amerika serikat. Jadi bisa disimpulkan dalam tulisan ini saya akan menjelaskan gejolak politik di Libya lebih focus dalam intervensi kemanusiaan dengan menganalisa Amerika Serikat yang memiliki pengaruh besar dalam gejolak politik di Libya tersebut.

C.                Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari penelitian ini adalah:
1.Apa latar belakang terjadinya intervensi kemanusiaan di Libya?
2.Apa alasan Amerika Serikat ikut mengintervensi Libya?
3.Apakah factor internal dan eksternal mempengaruhi politik luar negeri amerika serikat dalam intervensi di Libya?

D.                Kerangka teori

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas saya akan menjawab dengan dua teori dari perspektif liberalisme yaitu teori liberalisme institusi dan liberalisme republikan. Dua teori tersebut sengaja digunakan untuk membantu saya menjelaskan alasan Amerika serikat ikut serta dalam mengintervensi Libya pada tahun 2011. Sedangkan untuk menjelaskan mengenai pertanyaan ‘apakah factor internal dan eksternal Amerika serikat mempengaruhi politik luar negeri Amerika serikat terkait intervensi Libya?’. saya akan menjelaskan hal tersebut melalui konsep APLN (analisis politik luar negeri) yakni factor determinant PLN Amerika serikat baik domestic maupun internasional yang mempengaruhi kebijakan politik Luar Negeri Amerika serikat untuk ikut serta dalam mengintervensi Libya.
Saya menggunakan perspektif liberalisme sebagai persektif utama dalam membahas politik luar negeri Amerika serikat dalam intervensi kemanusiaan di Libya. namun, sebelum lebih dalam pembahasan ini berlanjut saya akan membatasi persektif liberalisme ini hanya sebatas membahas mengenai Analisis Politik Luar Negeri (APLN) saja sebagaimana inti pokok pembahasan saya. oleh sebab itu, pembahasan liberalisme tidak diberikan secara khusus seperti dalam pembahasan Teori hubungan Internasional (THI). Untuk mempermudah saya menjelaskan teori-teori yang saya gunakan dalam analisis politik luar negeri Amerika serikat dalam masalah ini. Saya akan membahas APLN (Analisa Politik Luar Negeri) terlebih dahulu, karena ketika berbicara Politik luar negeri sebuah negara maka tidak akan terlepas dari APLN negara tersebut (aby hara ,2011:16). Setelah pembahasan APLN baru membahas liberalisme dalam APLN termasuk pembahasan liberalisme institusi dan republican serta pembahasan factor determinant baik internal dan eksternal yang mempengaruhi PLN Amerika Serikat dalam intervensi di Libya.
Mengutip kembali perkataan eby hara dalam bukunya APLN dari realism sampai konstruktivisme, politik luar negeri sebuah negara tidak akan terlepas dari APLN negara tersebut begitu juga PLN dari Amerika serikat di Libya. sebelum teori-teori globalisasi menggugat posisi negara sebagai aktor tunggal yang digunakan perspektif realism, APLN sudah memulainya lebih awal dengan menunjukan bahwa aktor-aktor yang berperan dalam hubungan internasional adalah banyak dan kompleks. Hal ini juga terjadi di permasalahan intervensi kemanusian di Libya karena bukan hanya negara Libya atau negara-negara yang lain seperti Amerika serikat saja yang terlibat dalam permasalahan ini namun banyak aktor lain seperti PBB dan Liga Arab yang terlibat dalam terjadinya intervensi di Libya  tersebut. Para pembuat keputusan dalam PLN, walaupun walaupun berdomisili di suatu negara, berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungannya, baik domestic maupun internasional. keputusan mereka adalah hasil interaksi mereka dengan orang atau kelompok lain dan interaksi dengan milieu atau lingkungannya. Dalam era globalisai saat ini interaksi yang terjalin oleh aktor-aktor satu sama lain saling mempengaruhi kepentingan-kepentingan regional maupun internasional mereka, sehingga saat ini mereka saling terkait satu sama. Hal ini membawa kepentingan-kepentingan seperti perdamaian, pembangunan dan perlindungan HAM menjadi isu baru menjadi perhatian pengambil keputusan setelah isu klasik perang dan damai (eby hara,2011).
Atas dasar penegakan HAM dan perdamian, saya sengaja mengunakan perspektif liberalisme untuk mempermudah saya menganalis PLN Amerika serikat dalam intervensi kemanusiaan di Libya. liberalisme merupakan ideology yang pengaruhnya sangat besar dalam dunia internasional saat ini dan liberalisme ini adalah ideology yang berasal dari pemikiran barat. Ia menjadi landasan bagi demokrasi dan kapitalisme yang kini berkembang di dunia. Prinsip-prinsip pemikiran rasional ilmiah, pemerintah yang terbatas dan pemikiran tentang kebebasan individu. Kebebasan politik, kompetisi individu dalam masyarakat sipil dan sistem kapitalisme pasar adalah terbaik dalam menopang kesejahteraan melalui alokasi sumber-sumber yang terbatas secara efisien d masyarakat (burchil,2009:3). Namun prinsip-prinsip demokrasi ini tidak diperoleh oleh rakyat Libya di bawah pemerintahan Moamar khadafi selama dia menjadi presiden dan hal ini menjadi bibit-bibit gejolak politik di Libya yang berujung demonstrasi di Tripoli.
Terkait intervensi kemanusiaan di Libya saya akan menganalis hal tersebut dengan dua teori dari liberalisme yaitu liberalism republican dan liberalism institusi. dalam liberalism republican berbicara tentang perdamain antara negara-negara yang menganut system demokrasi di dunia dan system demokrasi ini telah menyebar dan diterapkan mayoritas negara di dunia saat ini. Namun argument tentang perdamian ini tidak berarti  negara-negara demokrasi tidak pernah berperang; burchil bahkan meyatakan bahwa negara-negara demokrasi memiliki selera yang kuat untuk berkonflik dengan negara-negara otoriter sebagai mana yang terjadi dengan konflik di timur tengah dan asia tengah (burchil,2009:83) salah satunya dengan Libya.
Para pengusung pandangan liberalism republican mengangap bahwa PLN di negara-negara demokrasi liberal dibatasi oleh institusi seperti pendapat umum aturan hukum dan pemerintahan berdasarkan perwakilan. Institusi ini membawa kelembagan dan normatif ini memperkuat pandangan bahwa negara-negara demokrasi liberal tidak memecahkan perbedaan PLN mereka dengan cara kekerasan satu sama lain (burchil,2009:83). Institusi kerjasama ekonomi dan organisasi regional serta internasional seperti PBB juga memperkuat perdamain di negara-negara demokrasi. Institusi menjadi focus dalam liberalism institusi dan peran PBB dalam melegistimasi Amerika serikat mengintervensi Libya melalui NATO atas nama kemanusiaan dan penyebaran demokrasi di negara yang otoriter ini.
Politik luar negeri sangat ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai oleh negara tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Tujuan-tujuan yang dimaksud adalah tujuan politk,keamanaan dan ekonomi. Kepentingan nasional ini ditentukan oleh penentu kebijakan luar negeri sebagai hasil dari proses politik. Ada banyak factor yang mempengaruhi penentu kebijakan dalam menentukan kebijakan politik luar negerinya, factor-faktor tersebut dapat diklarifikasi menjadi factor internal atau domestic dan factor eksternal atau factor internasional.
Politik luar negeri suatu negara, termasuk Amerika serikat, juga dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal negara tersebut. Salah satu factor internal yang mempengaruhi penentu kebijakan mengambil kebijakan untuk ikut andil dalam mengintervensi Libya atas nama kemanusiaan adalah factor kepentingan ekonomi,menjelang pemilu Amerika serikat 2012 dan peran opini masyarakat Amerika serikat dalam permasalahan di Libya. Sedangkan salah satu factor eksternal yang mempengaruhi politik luar negeri Amerika serikat tersebut karena factor kapabilitas Amerika serikat, factor alliansi dan factor jenis rezim musuh (moamar khadafi yang otoriter).
Kepentingan ekonomi adalah hal yang paling banyak dikaitkan oleh para ilmu social terkait politik luar negeri Amerika serikat ke libya. hal ini wajar saja terkait sebagian besar pendapatan Negara libya disumbangkan dari ekspor minyak yang tidak dimiliki semua negara. Kepentingan ekonomi dengan kerjasama ekonomi dan membuka pasar global dengan Libya menjadi tujuan setiap negara tidak termasuk Amerika serikat.
Faktor domestic lain adalah akan adanya pemilu AS 2012 dan peran opini masyarakat AS terkait konflik ini. opini masyarakat  Amerika yang prihatin terhadap pelanggaran HAM dan kejahat kemanusiaan di libya mendapat respon positif dari pemerintahan barrack obama. Peran opini masyarakat Ini sangat berpengaruh terhadap pemerintahan barrack obama. Hal ini digunakan pemerintah barrack obama dalam mencitrakan dirinya peduli terhadap isu kemanusiaan dan HAM serta demokrasi.
Selain faktor domestic , faktor internasional yang mempengaruhi politik luar negeri AS adalah faktor kapabilitas AS sebagai Negara besar dan super power yang sangat berpengaruh di dunia internasional termasuk negara anggota PBB. kekuatan militer Amerika serikat adalah kekuatan nomor satu di dunia dan belum ada tandingannya pasca kejatuhan uni soviet. Bukan hanya itu Amerika serikat juga mempunyai  hegemoni hampir di setiap bidang termasuk bidang ekonomi yang dianggap penentu kebijakan mampu untuk mempermudah menentukan kebijakan tersebut.
Salah satu factor internasional yang mempengaruhi kebijakan Amerika serikat di Libya saat itu adalah factor Alliansi NATO atau North Atlantic Treaty Organization. Inggris, italia, kanada dan perancis mendukung Amerika serikat dan mengusung NATO mengintervensi Libya demi melindungi warga sipil melalui perintah PBB() .   
E.                 Metode Peneitian
Penelitian ini menggunakan metoda kualitatif. saya memperhatikan bahwa data kualiatif dapat dianalisis dalam berbagai format, termasuk di antaranya kajian peluang yang ditawarkan oleh format riset observasi (termasuk observasi partisian), wawancara, riset sumber dokumen, dan riset media (Harison 2007). Dengan kajian format riset observasi tersebut maka penelitian kualitatif memberikan kesempatan ekspresi dan penjelasan yang lebih besar, berbanding terbalik dengan riset kuantitatif yang hanya cenderung fokus pada usaha mengeksplorasi sejumlah contoh atau peristiwa yang dipandang menarik dan mencerahkan dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam bukan luas (Harison 2007).
Pada dasarnya penelitian kualitatif dan kuantitatif sama-sama berdasar kepada ontologi, epistemologi, axiologi, retorika, dan pendekatan metodologi itu sendiri (Creswell 1994). Namun yang membedakan adalah perumusan, pengumpulan dan pemrosesan suatu data. Jika kuantitatif didasarkan kepada perhitungan, persentase, rata-rata, kuadrat, dan perhitungan statistik lainnya atau dengan kata lain penelitian ini melibatkan diri pada perhitungan angka, dan kuantitas. Penelitian kualitatif atau kualitas menunjuk pada segi alamiah yang sangat bertentangan dengan kuantum dan jumlah kauntitas. Atas dasar itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan, tetapi penelitian yang penuh dengan riset yakni riset dokumen, riset observasi, riset media cetak, elektronik, dan wawancara.
            Metodologi kualitatif ini juga didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong 2002). Penelitian ini disebutkan memiliki enam asumsi (Creswell 2004). Pertama, peneliti kualitatif mementingkan proses daripada hasil atau produk. Kedua, peneliti kualitaif tertarik dalam mengartikan bagaimana manusia mengartikan kehidupan, pengalaman-pengalaman, dan struktur dunia mereka. Ketiga, peneliti kualitatif merupakan instrumen utama dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Keempat, penelitian kualitatif meliputi kerja lapangan. Kelima, penelitian kualitatif adalah deskriptif, peneliti berkepentingan dalam proses, pengartian, dan pemahaman yang diperoleh atau melalui kata-kata atau gambar. Keenam, proses penelitian kualitatif adalah induktif, dalam hal ini peneliti membuat abstraksi, konsep, hipotesis, dan teori.
Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif ini meliputi empat tipe, yaitu observasi, interview, dokumen, dan gambar visual yang masing-masing mempunyai fungsi dan keterbatasan (Creswell 1994). Berdasarkan kepada tipe-tipe tersebut saya lebih menggunakan data-data yang bersifat sekunder, yaitu data yang sudah diolah dan sudah jadi lalu di publikasikan oleh instansi-instansi penerbit. Dengan sumber kepustakaan diharapkan membantu saya  untuk mengupas, dan membahas lebih dalam mengenai politik luar negeri Amerika serikat terkait intervensi kemanusiaan di Libya.
F.                 Sistematika Penulisan



G.                Daftar Pusataka
Hara,abubakar aby.(2011) pengantar Analisis Politik Luar Nnegeri dari realism sampai konstruktivisme.Bandung :nuansa.
Muniroh,z .(2012). faktor-faktor krisis politik Libya tahun 2010-2011.yogyakarta: UMY.
Burchill, s.(2009). Theories of international relations. Basingstoke :palgrave macmillan.
Jackson,Robert & Sorensen, georg (2009) pengantar studi hubugan internasional . Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR.
Holsty,k.j (1983) international politics : a framework for analysis. London : prentice-Hall.
Sumber website :
http://www.tropicpost.com/middle-east-in-revolt/ diakses pada tanggal 27 november 2012
http://www.theaustralian.com.au/news/world/deal-puts-nato-at-head-of-libyan-operation/story-e6frg6so-1226027088954 diakses pada tanggal 28 november 2012



No comments: