POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERKAIT INTERVENSI KEMANUSIAAN DI LIBYA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Libya merupakan negara
timur tengah yang ikut mengalami arab
spring yang terjadi di berbagai negara Timur tengah seperti Tunisia, mesir,
suriah, Bahrain dan yaman. Arab spring
merupakan gelombang revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi di negara arab
sejak 18 desember 2010 di Tunisia dan semakin meluas ke negara-negara timur
tengah yang lainya (lynthomas,2011). Terjadinya arab spring ini mengakibatkan
jatuhnya rezim-rezim penguasa di negara-negara timur tengah yang mengalaminya.
Kejatuhan rezim-rezim penguasa yang sebagian besar telah puluhan tahun berkuasa
dimasing-masing negara dilakukan oleh para rakyat negaranya maupun melalui
bantuan negara lain seperti yang terjadi di Libya dalam menjatuhkan kekuasaan
presiden muammar khadafi yang telah
berkuasa puluhan tahun melalui
intervensi Amerika serikat, Inggris dan prancis dengan atas nama NATO yang telah dilegistimasi oleh PBB.
Latar belakang terjadinya gejolak
politik di libya bermula dari sebuah demonstrasi besar-besaran oleh
rakyat yang menuntut muamar khadafi untuk turun dari kursi presiden. Muamar
khadafi telah menduduki kursi presiden selama 41 tahun. selama menjabat muamar
khadafi dipandang sebagai pemimpin bertangan besi dan tidak merepresentasikan
kepentingan rakyat libya. Dalam masa kepemimpinannya pula Libya sempat
dikucilkan dalam hubungan internasional karena menjadi ‘oposisi’ politik
internasional Amerika Serikat sebagai negara hegemoni.
Pemerintah muamar khadafi menanggapi demonstrasi besar-besaran di libya dengan
kekerasan dan pembunuhan. Ratusan orang meninggal dan ratusan orang
mengalami luka-luka atas kekerasan tentara-tentara muammar khadafi untuk
membubarkan demonstrasi besar-besaran tersebut dengan senjata api bahkan dengan
jet tempurnya. Bahkan dalam pidatonya, khadafi bersiap mengerahkan semua
senjatanya untuk mempertahankan Tripoli dari para pemberontak
(kawilarang,armandhanuk,2011).
Pergolakan
politik di Libya kemudian memuncak dengan terjadinya perang saudara di
benghadzi. Perang antara tentara pro khadafi dan tentara dari pemerintah
melawan pemberontak telah membuat banyak korban yang bukan hanya dari pasukan
tentara kedua kelompok yang bertikai namun pula banyak dari warga sipil yang
ikut menjadi korban peperangan kedua kelompok tersebut. Selama pergolakan
politik di Libya Sekitar 50.000 orang terbunuh baik dari tentara pro khadafi
maupun pemberontak dan juga dari rakyat sipil Libya (purwadi,2011).
Namun semangat revolusionis rakyat libya
dalam menggulingkan pemerintahan muamar khadafi tak terbendung walaupun dengan
senjata api tentara khadafi. Muamar khadafi semakin terdesak dari Tripoli dan
menindahkan pusat kekuatannya ke kota Benghazi, kota kelahiran muamar khadafi.
Dalam
perkembangan konflik libya, rakyat terbagi menjadi dua yaitu rakyat yang
loyalis terhadap muamar khadafi dan rakyat yang beroposisi atau kontra dengan
muamar khadafi. Dua golongan tentu berbeda kepentingan , rakyat yang loyalis khadafi
berkepentingan untuk mempertahankan kekuasaan khadafi sedangkan rakyat yang
kontra sebaliknya. Atas dasar dua kepentingan yang berbeda ini terjadi
peperangan saudara di Benghazi sebagai pusat kekuatan baru muamar khadafi yang
terpojokan dari Tripoli.
Kekuatan
persenjataan muamar khadafi di Benghazi lebih canggih dibanding dengan kekuatan
persenjataan oposisi dan sistem militer yang kurang. Pesawat tempur dan
kendaraan perang lain dikerahkan dalam upaya pertahanan kekuasaan khadafi. Akibatnya banyak jatuh korban dari warga
sipil yang diserang oleh para tentara muamar khadafi terutama dari udara.
Di sisi lain Pembantaian sipil yang
dilakukan oleh para tentara khadafi dengan mengunakan jet tempur yang terjadi
di domestik berubah menjadi isu
internasional. Berbagai kecaman dari dunia internasional, hal ini membuat
oposisi yang sedang mengalami kemunduran mencari dukungan dunia internasional
khususnya PBB. Peperangan di Libya ini menjadi topik utama
di media-media internasional dan dunia internasional mengecam tidakan tentara
pemerintah yang memerangi warga sipil dengan senjata militer. Prancis,Inggris
dan Amerika Serikat sebagai salah satu dewan keamanan PBB turut mengecam
tindakan ini dan memutuskan untuk ikut membantu menjatuhkan rezim pemerintah Libya
melalui NATO (Norington,2011). PBB sebagai organisasi internasional dengan
anggota negara-negara di dunia menerapkan resolusi 1973 DK PBB dengan
mengizinkan dewan keamanan PBB melalui NATO untuk melakukan segala cara untuk
melindungi warga sipil dari tindakan kekerasan pemerintah Libya salah satu
dengan cara kebijakan melakukan zona larangan terbang oleh NATO
(traynor,watt,2011).
Pada tanggal 19 maret 2011,
presiden perancis, Nicolas sarcozy telah meluncurkan 19 pesawat tempurnya di
kawasan Benghazi. Operasi ini bertujuan untuk mencegah serangan pasukan khadafi
menuju kota yang telah dikuasai pemberontak. Pada hari itu juga pasukan
angkatan udara Inggris dan Amerika serikat telah menembakan rudal jelajah
pertama, menjatuhkan bom ke lapangan terbang tentara khadafi dan mencari
pasukan darat Libya yang menyerang. Operasi militer tentara Amerika serikat,
inggris dan perancis atas nama NATO terus beroperasi menghancurkan tentara
khadafi. Dan puncak operasi NATO yaitu ketika terbunuhnya presiden Libya
Muammar khadafi di Sirte pada 20 oktober 2011.
Pasca jatuhnya muammar
khadafi, rakyat Libya harus tetap berjuang dalam membangun negaranya yang masih
belum stabil baik ekonomi, politik dan social. Libya masih rawan akan perebutan
kekuasaan walaupun telah terbentuk Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) karena
masih dianggap belum menemukan system pemerintahan yang cocok dengan libya.
Oleh karena itu diplomat Amerika serikat,
paul Bremen, menawarkan kerjasama dengan rakyat Libya terkait proses
transisi kepemimpinan Libya melalui jalan demokrasi yaitu pemilihan umum di
Libya, revisi undang-undang dan membuat undang-undang baru.
B.
Tinjauan
Pustaka
Dalam bagian ini, saya akan mengulas skrispi mengenai Libya. skripsi
berjudul “faktor-faktor krisis politik Libya tahun 2010-2011”.penulis skripsi
ini adalah Z. Muniroh seorang mahasiswi di Universitas Muhammadiyyah
Yogyakarta.
Dalam
skripsi muniroh , dia membahas gejolak poitik yang terjadi di Libya yang ia
persempit agar lebih fokus yaitu pada tahun 2010-2011 tepatnya ketika arab
spring melanda sebagian negara timur tengah termasuk Libya sendiri yang
mengalami arab spring yang berakibat turunnya moammar khadafi dari kursi
kepresidenan yang telah duduki lebih dari empat dekade. Focus dari Muniroh
dalam gejolak politik di Libya tahun 2010-2011 membuat saya memilihnya menjadi
tinjauan pustaka karena konflik Libya adalah pembahasan yang akan saya bahasa
dalam tulisan ini.
Dalam
tulisannya, Muniroh memfokuskan diri menganalisa factor-faktor internal dalam
negeri Libya. menurutnya factor kepemimpinan khadafi dalam membangun Libya
sangat mempengaruhi negeri Libya ini. Terbukti dia telah menjadi orang nomor
satu di Libya selama empat decade lebih tepatnya 41 tahun setelah mengkudeta
raja idris dari kerajaannya oleh khadafi sendiri dan seanjutnya dia mendirikan
negara demokrasi yang sesuai dengan dirinya bahkan ia membuat green book sebagai buku yang menjelaskan
teori universal ciptaannya yang banyak dipengaruhi oleh gamal abdul Nasser dari
mesir.
Menurutnya
ada tiga kelompok yang berperan penting dalam gejolak poitik di Libya yang
pertama adalah kelompok pro atau mendukung presiden khadafi. Kelompok kedua adalah kelompok yang kontra
dengan khadafi , dan yang terakhir adalah kelompok dari dunia internasional.
Dari
pemaparan singkat mengenai apa yang ditulis oleh Muniroh dalam skripsinya. Ada
hal mendasar yang membuat tulisan ini berbeda dengan tulisan skripsi muniroh,
dalam tulisan ini saya akan lebih memfokuskan diri tekait kelompok ketiga yang
mempengaruhi gejolak politik Libya yaitu dunia internasional dan untuk mempermudah
dalam pembasan saya sengaja mempersempitnya agar lebih focus ke pengaruh
Amerika Serikat di Libya. dalam isu politiknya saya lebih memfokuskan diri pada
intervensi kemanusiaan NATO di Libya atas campur tanggan Amerika serikat. Jadi
bisa disimpulkan dalam tulisan ini saya akan menjelaskan gejolak politik di
Libya lebih focus dalam intervensi kemanusiaan dengan menganalisa Amerika
Serikat yang memiliki pengaruh besar dalam gejolak politik di Libya tersebut.
C.
Pertanyaan
Penelitian
Adapun pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari
penelitian ini adalah:
1.Apa latar belakang terjadinya
intervensi kemanusiaan di Libya?
2.Apa alasan Amerika Serikat ikut
mengintervensi Libya?
3.Apakah factor internal dan eksternal
mempengaruhi politik luar negeri amerika serikat dalam intervensi di Libya?
D.
Kerangka
teori
Dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan diatas saya akan menjawab dengan dua teori dari
perspektif liberalisme yaitu teori liberalisme institusi dan liberalisme
republikan. Dua teori tersebut sengaja digunakan untuk membantu saya
menjelaskan alasan Amerika serikat ikut serta dalam mengintervensi Libya pada
tahun 2011. Sedangkan untuk menjelaskan mengenai pertanyaan ‘apakah factor
internal dan eksternal Amerika serikat mempengaruhi politik luar negeri Amerika
serikat terkait intervensi Libya?’. saya akan menjelaskan hal tersebut melalui
konsep APLN (analisis politik luar negeri) yakni factor determinant PLN Amerika serikat baik domestic maupun internasional
yang mempengaruhi kebijakan politik Luar Negeri Amerika serikat untuk ikut
serta dalam mengintervensi Libya.
Saya menggunakan perspektif
liberalisme sebagai persektif utama dalam membahas politik luar negeri Amerika
serikat dalam intervensi kemanusiaan di Libya. namun, sebelum lebih dalam
pembahasan ini berlanjut saya akan membatasi persektif liberalisme ini hanya
sebatas membahas mengenai Analisis Politik Luar Negeri (APLN) saja sebagaimana
inti pokok pembahasan saya. oleh sebab itu, pembahasan liberalisme tidak
diberikan secara khusus seperti dalam pembahasan Teori hubungan Internasional
(THI). Untuk mempermudah saya menjelaskan teori-teori yang saya gunakan dalam
analisis politik luar negeri Amerika serikat dalam masalah ini. Saya akan
membahas APLN (Analisa Politik Luar Negeri) terlebih dahulu, karena ketika
berbicara Politik luar negeri sebuah negara maka tidak akan terlepas dari APLN
negara tersebut (aby hara ,2011:16). Setelah pembahasan APLN baru membahas liberalisme
dalam APLN termasuk pembahasan liberalisme institusi dan republican serta
pembahasan factor determinant baik
internal dan eksternal yang mempengaruhi PLN Amerika Serikat dalam intervensi
di Libya.
Mengutip kembali perkataan
eby hara dalam bukunya APLN dari realism
sampai konstruktivisme, politik luar negeri sebuah negara tidak akan
terlepas dari APLN negara tersebut begitu juga PLN dari Amerika serikat di
Libya. sebelum teori-teori globalisasi menggugat posisi negara sebagai aktor
tunggal yang digunakan perspektif realism, APLN sudah memulainya lebih awal
dengan menunjukan bahwa aktor-aktor yang berperan dalam hubungan internasional
adalah banyak dan kompleks. Hal ini juga terjadi di permasalahan intervensi
kemanusian di Libya karena bukan hanya negara Libya atau negara-negara yang
lain seperti Amerika serikat saja yang terlibat dalam permasalahan ini namun
banyak aktor lain seperti PBB dan Liga Arab yang terlibat dalam terjadinya
intervensi di Libya tersebut. Para
pembuat keputusan dalam PLN, walaupun walaupun berdomisili di suatu negara,
berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungannya, baik domestic maupun
internasional. keputusan mereka adalah hasil interaksi mereka dengan orang atau
kelompok lain dan interaksi dengan milieu
atau lingkungannya. Dalam era globalisai saat ini interaksi yang terjalin
oleh aktor-aktor satu sama lain saling mempengaruhi kepentingan-kepentingan
regional maupun internasional mereka, sehingga saat ini mereka saling terkait
satu sama. Hal ini membawa kepentingan-kepentingan seperti perdamaian,
pembangunan dan perlindungan HAM menjadi isu baru menjadi perhatian pengambil
keputusan setelah isu klasik perang dan damai (eby hara,2011).
Atas dasar penegakan HAM
dan perdamian, saya sengaja mengunakan perspektif liberalisme untuk mempermudah
saya menganalis PLN Amerika serikat dalam intervensi kemanusiaan di Libya.
liberalisme merupakan ideology yang pengaruhnya sangat besar dalam dunia
internasional saat ini dan liberalisme ini adalah ideology yang berasal dari
pemikiran barat. Ia menjadi landasan bagi demokrasi dan kapitalisme yang kini
berkembang di dunia. Prinsip-prinsip pemikiran rasional ilmiah, pemerintah yang
terbatas dan pemikiran tentang kebebasan individu. Kebebasan politik, kompetisi
individu dalam masyarakat sipil dan sistem kapitalisme pasar adalah terbaik
dalam menopang kesejahteraan melalui alokasi sumber-sumber yang terbatas secara
efisien d masyarakat (burchil,2009:3). Namun prinsip-prinsip demokrasi ini
tidak diperoleh oleh rakyat Libya di bawah pemerintahan Moamar khadafi selama
dia menjadi presiden dan hal ini menjadi bibit-bibit gejolak politik di Libya
yang berujung demonstrasi di Tripoli.
Terkait intervensi
kemanusiaan di Libya saya akan menganalis hal tersebut dengan dua teori dari
liberalisme yaitu liberalism republican dan liberalism institusi. dalam
liberalism republican berbicara tentang perdamain antara negara-negara yang
menganut system demokrasi di dunia dan system demokrasi ini telah menyebar dan
diterapkan mayoritas negara di dunia saat ini. Namun argument tentang perdamian
ini tidak berarti negara-negara
demokrasi tidak pernah berperang; burchil bahkan meyatakan bahwa negara-negara
demokrasi memiliki selera yang kuat untuk berkonflik dengan negara-negara
otoriter sebagai mana yang terjadi dengan konflik di timur tengah dan asia
tengah (burchil,2009:83) salah satunya dengan Libya.
Para pengusung pandangan
liberalism republican mengangap bahwa PLN di negara-negara demokrasi liberal
dibatasi oleh institusi seperti pendapat umum aturan hukum dan pemerintahan
berdasarkan perwakilan. Institusi ini membawa kelembagan dan normatif ini
memperkuat pandangan bahwa negara-negara demokrasi liberal tidak memecahkan
perbedaan PLN mereka dengan cara kekerasan satu sama lain (burchil,2009:83).
Institusi kerjasama ekonomi dan organisasi regional serta internasional seperti
PBB juga memperkuat perdamain di negara-negara demokrasi. Institusi menjadi
focus dalam liberalism institusi dan peran PBB dalam melegistimasi Amerika
serikat mengintervensi Libya melalui NATO atas nama kemanusiaan dan penyebaran
demokrasi di negara yang otoriter ini.
Politik luar negeri sangat
ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai oleh negara tersebut sesuai dengan
kepentingan nasionalnya. Tujuan-tujuan yang dimaksud adalah tujuan
politk,keamanaan dan ekonomi. Kepentingan nasional ini ditentukan oleh penentu
kebijakan luar negeri sebagai hasil dari proses politik. Ada banyak factor yang
mempengaruhi penentu kebijakan dalam menentukan kebijakan politik luar
negerinya, factor-faktor tersebut dapat diklarifikasi menjadi factor internal
atau domestic dan factor eksternal atau factor internasional.
Politik luar negeri suatu
negara, termasuk Amerika serikat, juga dipengaruhi oleh factor internal dan
eksternal negara tersebut. Salah satu factor internal yang mempengaruhi penentu
kebijakan mengambil kebijakan untuk ikut andil dalam mengintervensi Libya atas
nama kemanusiaan adalah factor kepentingan ekonomi,menjelang pemilu Amerika
serikat 2012 dan peran opini masyarakat Amerika serikat dalam permasalahan di
Libya. Sedangkan salah satu factor eksternal yang mempengaruhi politik luar
negeri Amerika serikat tersebut karena factor kapabilitas Amerika serikat,
factor alliansi dan factor jenis rezim musuh (moamar khadafi yang otoriter).
Kepentingan
ekonomi adalah hal yang paling banyak dikaitkan oleh para ilmu social terkait
politik luar negeri Amerika serikat ke libya. hal ini wajar saja terkait
sebagian besar pendapatan Negara libya disumbangkan dari ekspor minyak yang
tidak dimiliki semua negara. Kepentingan ekonomi dengan kerjasama ekonomi dan
membuka pasar global dengan Libya menjadi tujuan setiap negara tidak termasuk
Amerika serikat.
Faktor
domestic lain adalah akan adanya pemilu AS 2012 dan peran opini masyarakat AS
terkait konflik ini. opini masyarakat Amerika yang prihatin terhadap
pelanggaran HAM dan kejahat kemanusiaan di libya mendapat respon positif dari
pemerintahan barrack obama. Peran opini masyarakat Ini sangat berpengaruh
terhadap pemerintahan barrack obama. Hal ini digunakan pemerintah barrack obama
dalam mencitrakan dirinya peduli terhadap isu kemanusiaan dan HAM serta
demokrasi.
Selain
faktor domestic , faktor internasional yang mempengaruhi politik luar negeri AS
adalah faktor kapabilitas AS sebagai Negara besar dan super power yang sangat
berpengaruh di dunia internasional termasuk negara anggota PBB. kekuatan
militer Amerika serikat adalah kekuatan nomor satu di dunia dan belum ada
tandingannya pasca kejatuhan uni soviet. Bukan hanya itu Amerika serikat juga
mempunyai hegemoni hampir di setiap bidang termasuk bidang ekonomi yang
dianggap penentu kebijakan mampu untuk mempermudah menentukan kebijakan
tersebut.
Salah
satu factor internasional yang mempengaruhi kebijakan Amerika serikat di Libya
saat itu adalah factor Alliansi NATO atau North
Atlantic Treaty Organization.
Inggris, italia, kanada dan perancis mendukung Amerika serikat dan mengusung
NATO mengintervensi Libya demi melindungi warga sipil melalui perintah PBB() .
E.
Metode
Peneitian
Penelitian ini menggunakan metoda kualitatif. saya memperhatikan bahwa data kualiatif dapat dianalisis
dalam berbagai format, termasuk di antaranya kajian peluang yang ditawarkan
oleh format riset observasi (termasuk observasi partisian), wawancara, riset
sumber dokumen, dan riset media (Harison 2007). Dengan kajian format riset
observasi tersebut maka penelitian kualitatif memberikan kesempatan ekspresi
dan penjelasan yang lebih besar, berbanding terbalik dengan riset kuantitatif
yang hanya cenderung fokus pada usaha mengeksplorasi sejumlah contoh atau peristiwa
yang dipandang menarik dan mencerahkan dengan tujuan untuk mendapatkan
pemahaman yang mendalam bukan luas (Harison 2007).
Pada dasarnya penelitian kualitatif dan kuantitatif
sama-sama berdasar kepada ontologi, epistemologi, axiologi, retorika, dan pendekatan
metodologi itu sendiri (Creswell 1994). Namun yang membedakan adalah perumusan,
pengumpulan dan pemrosesan suatu data. Jika kuantitatif didasarkan kepada
perhitungan, persentase, rata-rata, kuadrat, dan perhitungan statistik lainnya
atau dengan kata lain penelitian ini melibatkan diri pada perhitungan angka,
dan kuantitas. Penelitian kualitatif atau kualitas menunjuk pada segi alamiah
yang sangat bertentangan dengan kuantum dan jumlah kauntitas. Atas dasar itulah
maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang
tidak mengadakan perhitungan, tetapi penelitian yang penuh dengan riset yakni
riset dokumen, riset observasi, riset media cetak, elektronik, dan wawancara.
Metodologi kualitatif ini juga
didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat
diamati (Moleong 2002). Penelitian ini disebutkan memiliki enam asumsi
(Creswell 2004). Pertama, peneliti kualitatif mementingkan proses daripada
hasil atau produk. Kedua, peneliti kualitaif tertarik dalam mengartikan
bagaimana manusia mengartikan kehidupan, pengalaman-pengalaman, dan struktur
dunia mereka. Ketiga, peneliti kualitatif merupakan instrumen utama dalam
mengumpulkan dan menganalisis data. Keempat, penelitian kualitatif meliputi
kerja lapangan. Kelima, penelitian kualitatif adalah deskriptif, peneliti
berkepentingan dalam proses, pengartian, dan pemahaman yang diperoleh atau
melalui kata-kata atau gambar. Keenam, proses penelitian kualitatif adalah
induktif, dalam hal ini peneliti membuat abstraksi, konsep, hipotesis, dan
teori.
Pengumpulan data
dalam penelitian kualitatif ini meliputi empat tipe, yaitu observasi,
interview, dokumen, dan gambar visual yang masing-masing mempunyai fungsi dan
keterbatasan (Creswell 1994). Berdasarkan kepada tipe-tipe tersebut saya lebih menggunakan data-data yang bersifat sekunder,
yaitu data yang sudah diolah dan sudah jadi lalu di publikasikan oleh
instansi-instansi penerbit. Dengan sumber kepustakaan diharapkan membantu saya
untuk mengupas,
dan membahas lebih dalam mengenai politik luar negeri
Amerika serikat terkait intervensi kemanusiaan di Libya.
F.
Sistematika
Penulisan
G.
Daftar
Pusataka
Hara,abubakar aby.(2011) pengantar Analisis Politik Luar Nnegeri dari
realism sampai konstruktivisme.Bandung :nuansa.
Muniroh,z .(2012). faktor-faktor krisis politik Libya tahun 2010-2011.yogyakarta: UMY.
Burchill, s.(2009). Theories of international relations. Basingstoke :palgrave
macmillan.
Jackson,Robert & Sorensen, georg
(2009) pengantar studi hubugan
internasional . Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR.
Holsty,k.j (1983) international politics
: a framework for analysis. London : prentice-Hall.
Sumber
website :
http://www.tropicpost.com/middle-east-in-revolt/ diakses
pada tanggal 27 november 2012
http://dunia.vivanews.com/news/read/204953-giliran-pemimpin-libya-digoyang-demonstrasi diakses
pada tanggal 27 november 2012
http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/08/31/lqralg-komandan-libya-sekitar-50000-orang-tewas-dalam-pergolakan
diakses
pada tanggal 27 november 2012
http://www.theaustralian.com.au/news/world/deal-puts-nato-at-head-of-libyan-operation/story-e6frg6so-1226027088954
diakses pada tanggal 28 november 2012
http://www.guardian.co.uk/world/2011/mar/23/libya-no-fly-zone-leadership-squabbles
diakses
pada tanggal 28 november 2012
No comments:
Post a Comment